Catatan Kaki 3 : Kekhawatiran


#CatatanKaki3

JUDUL              = Catatan Kaki 3 : Kekhawatiran
LOKASI             = Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat

OPENING

a. Narasi Intro (Multi Footage)

            Berani pergi melangkahkan kaki di cuaca yang ekstrim, merupakan sebuah keputusan yang tidak bisa dibuat main-main, sehingga lahirlah 2 asal perasaan, yang tidak bisa ditahan-tahan kehendaknya, baik rasa mengkhawatirkan maupun yang dikhawatirkan…

b. Salam Pembuka

            Assalamualaikum..wr..wb Merdeka, Selamat pagi, siang, sore, dan malam, dimanapun rekan-rekan semuanya berada. Saya harap kalian semua baik baik saja ya, begitupun saya..Aamiin. Okey, Jumpa lagi dengan saya, Naufal Nur A’lam.     

            Perkiraan cuaca yang tidak bisa ditebak, membuat kita sebagai hamba hanya bisa pasrah dan bersyukur, atas kehendaknya. Musim penghujan disertai badai, menjadi sebuah point utama, dari rasa khawatir para rekan sahabat, dan juga orang tua tentunya. Perihal terimakasih, akan Do’a dari orang-orang tersayanglah, yang membuat kami berani melihat lebih dekat negeri ini yang sedang bersedih dan berduka..

            Ini adalah perjalanan saya di awal tahun 2020 ke daerah Garut Jawa Barat. Tepatnya di Gunung Cikuray, semua itu akan saya jelaskan dan akan saya ceritakan disini, di Catatan Kaki Naufal yang ketiga and let’s go to video…


~~ FOOTAGE JUDUL ~~
( 2 FOOTAGE SPECIAL)

ISI VIDEO

a. Prepare dan OTW Garut

            Beberapa daerah di jabodetabek sedang mengalami fase dimana bencana alam sedang gencar-gencarnya terjadinya, tentunya di daerah rumah saya Bekasi. Rencana pendakian yang saya susun sedemikian rupa ini tentu saja berubah yang awalnya saya berniat mendaki ke Gunung Salak kemudian berdasarkan informasi Gunung Salak ditutup karena beberapa factor, pendakian kali ini saya alihkan ke Gunung Cikuray di Garut, awalnya saya memilih Cikuray ini karena cuaca di Garut ini tidak se-ekstrim cuaca di jabodetabek. Faktor cuaca di awal tahun 2020 ini berefek pada tim pendakian saya juga. Dari awalnya 12 orang kini tersisa 3 orang mengenai masalah perizinan, ah yasudah tidak apa-apa, sepertinya ini yang terbaik untuk mereka dan semoga saya dan rekan-rekan yang lain dapat berkelana bersama di lain waktu.

            Tepat dibawah rintikan gerimis, kami yang sebelumnya sudah menentukan rumah ka noer di bekasi sebagai titik kumpul untuk persiapan dan start perjalanan kami menuju Garut Pada pendakian kali ini saya ditemani oleh 2 rekan saya yaitu Hadid dan Ka Noer, ya benar sekali mereka adalah rekan saya juga di Mazpala yang sudah beberapa kali mendaki bersama saya. Kami mempersiapkan segala macam perlengkapan yang dibutuhkan di atas gunung. Setelah sholat ashar dan semua perlengkapan selesai di packing dalam carrier, kami berjalan sedikit dari gang rumah ka noer, menuju jalan raya. Setelah memahami situasi rasanya tak mungkin kami menuju terminal bekasi, akhirnya setelah berdiskusi kami pindah haluan untuk berangkat ke Garut dari Terminal Kampung Rambutan Jakarta saja, kini Taksi Online-lah yang akhirnya kami pilih untuk mengantar kami menuju terminal kampung rambutan. Tak lama kami sampai di terminal kampung rambutan, adzan maghrib berkumandang, kami menggugurkan kewajiban. Berdasarkan informasi yang kami ketahui sebelumnya bis terkahir menuju garut yaitu pada pukul setengah tujuh malam, dengan harga 52.000 rupiah, dan kami membayar 50.000 setelah tawar menawar.

             Bis mengangkatkan kaki dari kandangnya, kami dibawa pergi dari kota Jakarta, bus yang kami fikir sudah membawa kami jauh dari Jakarta ternyata dugaan kami salah, kondektur bus terus saja mengumandangkan teriakan khas nya untuk mencari-cari penumpang, lagi lagi kami diputar-putar dari pasar rebo ke kampung rambutan begitu terus sampai 2 kali putaran, ah menyebalkan. Setelah dua kali putaran beberapa penumpang mulai kesal, mungkin karena terlalu di permainkan, akhirnya setelah drama tersebut kami di oper ke bis lain yang bersedia mengantar kami menuju Garut, akhirnya drama ini selesai juga. Bis mengantarkan kami ke kota Garut, cuaca dengan suhu rendah kini membuat kami nyaman sekali dalam perjalanan, ketika saya bangun dari tidur nyaman ini tiba-tiba kondektor berteriak “ciluenyi-cileunyi”, hah ! cepat sekali ternyata saya benar-benar terlelap akan perjalanan malam ini. Bis sudah sampai di Bandung, sebentar lagi bis akan sampai di Garut.

            Tepat pada pukul tiga pagi kami tiba di terminal guntur kota Garut, baru saja kami bertiga turun dari bis dan berencana untuk beristirahat sejenak. Baru satu langkah tanggal bis, kami langsung saja di serang oleh para tukang ojek untuk meminta kami menggunakan jasanya untuk mengantarkan kami menuju basecamp pemancar, padahal sebelumnya saya sudah menghubungi pihak basecamp untuk menjemput kami di terminal guntur ini, tapi tukang ojek ini tetap saja memaksa kami untuk menggunakan motornya menuju basecamp, harga semakin lama memang semakin turun tapi saya tetap tidak tergoda oleh bujuk rayuannya, karena saya benar2 faham akan resikonya jika mengikuti ajakan tukang ojek tersebut, dan jika dibandingkan juga harga tukang ojek dan harga pick up resmi cikuray yang menjemput kami jauh lebih bersahabat harga pick up resmi dari cikuray itu. Ketika beberapa kali tukang ojek itu membujuk kami, akhirnya dia pun merasa lelah mungkin, ketika para tukang ojek lengah kami dengan sigap langsung meninggalkan terminal.

b. BC Pemancar dan Simaksi Pos 1

            Dekat dengan pasar Ciawitali Garut, kami melaksanakan sholat subuh di mushola dekat kawasan pasar, setelah itu kami berbelanja sayur-sayuran untuk kebutuhan logistik dengan budget tersisa yang sangat minim, kami harus pintar-pintar memanfaatkan uang yang sedikit untuk logistic yang cukup.  Lepas dari berbelanja, akhirnya mobil pick up carteran yang kami hubungi sebelumnya datang menjemput, dengan membayar sewa per-orang 40.000 rupiah untuk sekali jalan setelah tawar-menawar, yang harga normalnya adalah 45.000 rupiah per-orang sekali jalan, jadi kalau PP yaitu 80.000 per-orang.

            Fajar di kota garut menemani kami dalam perjalanan, awalnya saya berharap akan ada sinar matahari di garut pagi ini, hmm ternyata tidak. Pagi ini diselimuti awan megamendung kelam, indah nya pemandangan cikuray juga kerap tertutupi oleh kabut hitam di punggungannya, seakan-akan tidak ada seseorang yang datang di pagi itu. Ah, sudah-sudah tidak perlu berfikir se-negatif itu.

            Kini kami melewati pos kebun teh, kami diarahkan untuk membayar simaksi yang pertama di pos ini, seharga 10.000 rupiah per-orang. Lanjut mobil ini memutarkan ban rodanya, kami disuguhi pemandangan kebun teh, dan beberapa petani yang berkerja di perkebunan ini ikut menumpang bersama di pick up, beberapa kali gas di injak keadaan makin menjadi, jalan yang dulunya aspal kian dimakan oleh bebatuan besar membuat pinggang belakang kami sakit-sakit, sungguh penderitaan sebelum pendakian.
Basecamp pemancar di gunung cikuray ini adalah basecamp paling resmi dibandingkan yang lain, dinamakan pemancar karena di titik basecamp ini terdapat tower antenna penyiaran stasiun pertelevisian di Republik Indonesia karena titik lokasinya juga berada diatas ketinggian seperti stasiun televisi RCTI; MNCTV; Global TV; Indosiar; SCTV; dan yang paling tertua yaitu TVRI. Dan pemilik ulung dari perkebunan disini adalah Perusahan Televisi ini yang mengelola, yang menyediakan ladang pekerjaan untuk para warga menjadi petani untuk menggarap perkebunan ini yang biasa panen setiap satu minggu sekali, serta jalan disini juga dibuat oleh perusahaan televise ini untuk akses jalan dari desa ke area perkebunan, wow.. perekonomian yang luar biasa..!!

Setelah berjuang melewati bebatuan besar, kami tiba di basecamp pemancar ya tepat sekali kami berada di depan kantor pemancar stasiun televisi ini. Lepas pickup meninggalkan kami, kami membuka kompor dan cooking set lalu menyeduh mi untuk sarapan kemudian peregangan lalu berdo’a untuk keselamatan, dan dari titik pemancar inilah pendakian kami dimulai.

Awal melangkahkan kami, kami sudah dibingungkan oleh jalan cabang ini, kami memilih jalan ke kiri, Karena ada tanda silang yang kami fikir ini adalah jalan buntu, Alhamdulillah pilihan kami benar, ternyata petemuan cabangnya ada diatas, jalan tersebut disilang bukan karena jalurnya yang salah tapi karena trek nya yang tidak lazim mungkin khusus motor petani disana.Setelah kabut mengiringi dan menutupi jarak pandang kami, sekita 15 menit terlewati kami tiba di pos 1 yaitu pos simaksi pendataan pendaki, keadaan basecamp ini sangat sepi, dan hanya ada satu orang relawan pemilik warung, saya bertanya-tanya mengenai jalur dan jumlah pendaki yang berkunjung dan beberapa tips disini, karena pos simaksinya belum buka jadi kami hanya di data saja identitas dan berapa lama rencana di gunung, rencana kami yaitu 3 hari 2 malam, setelah itu kami diperbolehkan bayar setelah kami turun, simaksi kedua ini seharga 15.000 rupiah per-orangnya. Jadi total simaksi di cikuray via pemancar ini adalah 25.000 rupiah.
               
c. Menuju Pos 3

            Di via pemancar ada dua jenis tanjakan yang sangat luar biasa, yaitu tanjakan baeud yang berada diantara basecamp pemancar menuju pos 1 yang kedua adalah tanjakan cihuy. Nah, 2 tanjakan inilah yang membuah kami berasumsi bahwa cikuray tidak pernah basa-basi. Benar saja kami langsung di suguhkan oleh tanjakan licin bekas hujan yang membuat kami harus ekstra berhati-hati, ternyata inilah yang disebut tanjakan cihuy cikuray, benar-benar cihuy. Sebelumnya kami berencana untuk mendirikan tenda di pos 6 atau puncak bayangan, dan untuk mencapai kesana kami fikir kami bisa sampai disana jam 12 siang atau jam 3 sore, kendati kami baru berada di awal pintu hutan.

            Perlahan tapi pasti kami melewati beberapa tanjakan yang licin, kami mulai merasa lelah dan khususnya pegal-pegal di pundak saya. Akar-akar pohon yang besar dan beberapa kali tangga seakan-akan memberikan ucapan selamat datang kepada kami bertiga, sungguh ucapan selamat datang yang tidak seperti biasanya di kota-kota. Berdasarkan informasi yang kami terima jarak estimasi waktu dari pos 1 ke pos 2 yaitu +/- 1 Jam, disitu kami berfikir ah tenang saja cobaan ini tidak akan lama. Makin lama berjalan, makin menjadi saja kami berkeringat, kaki-kaki kami mulai memaksa untuk berhenti, pundak-pundak kami jika dapat berbicara mungkin saja tidak sanggup untuk menggendong ransel besar ini. Entah berapa kali di trek 1 ke 2 ini, tidak terhitung berapa kali saya menyandarkan kepala saya ke batang pohon, tanda bahwa betapa mengejutkannya gunung cikuray ini kami seperti merasa dibohongi oleh informasi apapun yang mengatakan bahwa jaraknya hanya satu jam ataukah memang dari awal fisik kami lah yang sudah tidak sanggup, entahlah.. Akhirnya setelah beberapa kali berasumsi dengan diri sendiri, kami tiba di pos 2. Dan memang ternyata jarak yang paling sulit dan panjang itu ada diantara pos 1 ke 2, sungguh melelahkan..

            Kami baru ingat jikalau kami bawa madu untuk menambah stamina, sebenarnya saba lebih menyarankan membawa gula merah ya, karena lebih murah. Di pos kami beristirahat untuk mengembalikan daya tubuh, selanjutkan kami mengangkatkan kaki lagi menuju pos 3. Entahlah rasa-rasanya kami tidak mungkin sampai di pos 6 pada jam 3 sore nanti, sementara sekarang saja sudah menunjukan waktu sholat dzuhur. Semakin keatas semakin menanjak dan kini kabut kerap menutupi jarak pandang kami, entah kabut ini turun dari atas puncak atau naik dari bawah yang jelas kini suhunya semakin rendah, dan jarak pandang kami terbatas tidak hanya dingin ditambah perut kami yang minta diisi, sampai lupa kalau kami belum makan siang, pantas saja aja ada yang kurang. Selama kami berjalan kami merasa kejanggalan daritadi kami tidak menemukan satupun rombongan pendaki di gunung ini padahal berdasarkan informasi pemilik warung tadi ada beberapa rombongan yang mendaki gunung ini, tapi nyatanya tidak satupun kita temui. Dipertengahan trek kami bertemu dengan beberapa rombongan pendaki, berdasarkan informasi mereka hanya ada 1 atau 2 rombongan pendaki saja di hari ini, dan kami juga diinformasikan untuk tidak mendirikan tenda di pos 6 karena disana ada si bagas atau (babi ganas) yang kerap menyerang pendaki di titik tersebut dan juga tidak disarankan untuk mendirikan tenda di pos 7 karena hal mistisnya, tapi kami selalu berusaha untuk berfikif positif mengenai hal tersebut. Pukul setengah dua siang kami baru sampai di pos 3. Kami menemukan tenda yang bentuknya sudah tidak lagi utuh, lebih mirip flysheet tepatnya mungkin akibat ulah si bagas, dibawa tenda yang berbentuk flysheet itu kami berteduh untuk menyatap nasi goreng buatan hadid dan mie goreng buatan ka noer, sungguh nikmat sekali. Kami menikmatinya dibawa rintikan hujan dan kabut yang tebal.

d. Menuju Camp Darurat

            Mengenai info yang kami dapat dari pendaki lain akan si bagas, kami ubah niat kami yang tadinya mendirikan tenda di pos 6 sekarang kami berencana untuk mendirikan tenda di pos 8 saja, tempat yang paling aman dari serangan si bagas, hujan sore ini tak henti-henti dan kami rasa kami memiliki tenaga yang cukup untuk mencapai pos 8.

            Dalam perjalanan ini saya teringat oleh pesan seorang rekan yang berpesan; “jangan lupa sholat bang diatas, awas jangan sampai hipo fal, semoga kekhawatiran orang-orang atas kalian hanya sekedar angin lewat” begitulah isi pesan dari rekan dan sahabat saya. Terimakasih banyak atas pesan dan doanya, perjalanan menuju pos 8 ini seakan-akan memberikan kami terasa sangat memukul, ditambah trek yang curam dari pos 6 ke 7 dengan kondisi hujan dan kamipun berada dalam trek malam yang sebenarnya tidak direkomendasikan, tapi apa daya kami berupaya menghindari bagas. Jangankan mendokumentasikan perjalanan malam ini, membawa tubuh sendiri saja kami sudah tidak sanggup, mungkin kami bertiga merasakan bahwa ini adalah titik terlemah kami. Di antara pos 6 dan 7, kami membuat camp darurat, kami sudah tidak sanggup melanjutkan pendakian hari ini, dan beberapa dari kami bermimpi didatangi seorang rekan dalam mimpinya entah itu pertanda apa, kami tidak tahu apakah besok harus melanjutkan pendakian atau mencukupkannya sampai disini.

            Sinar matahari yang kami harapkan kehadirannya kini datang juga, lepas hujan kini mentari menghangatkan kami. Tentu saja kami tidak menyia-nyiakan moment ini, ternyata hal kecil yang sering kali dilupakan kini diatas gunung sinar matahari sangatlah berarti kehadirannya, dasar manusia seperti saya lupa cara bersyukur. Kami menjemur semua pakaian dan perlengkapan yang basah dan membuat sarapan pagi.

e. Menuju Pos 8

            Kami mulai menenagkan diri dan kembali berfikir waras usai kejadian semalam, selesai santap sarapan yang dibuat hadid dan ka noer akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan pendakian, kini tidak terlalu berat seperti hari jumat kemarin target kami hanya sampai pos 8 untuk mendirikan tenda, setelah packing selesai kami melanjutkan perjalanan dan benar saja tidak sampai 10 menit kami tiba di pos 7 dan setelah 15 menit berlalu dari pos 7 kami tiba diesbuah lahan datar yang luas disana banyak sekali jejak pendaki yang mendirikan tenda disini dan benar ternyata inilah yang disebut pos 8, pos yang baru dibuat disini memang belum ada papan penunjuknya tapi berdasarkan info ini adalah pos 8, pos ini begitu sepi tak ada satupun rombongan pendaki yang ada disini, ternyata hanya kami bertiga lah satu-satunya rombongan di gunung cikuray di hari jumat kemarin. Pos 8 adalah tempat yang paling aman untuk mendirikan tenda, kami pun segera mendirikan tenda disini, sekarang kondisinya sudah lebih tenang tidak se-tegang hari jumat kemarin, syukurlah.

            Flysheet telah dibentangkan dengan lebar, frame demi frame sudah tersusun, doble layer tenda sudah berdiri, api berwarna biru dari kompor membuat suhu air semakin panas tanda ingin menghangatkan tubuh, baju pakaian basah telah terjemur, baju hangat menggantikannya, penampungan air hujan telah terpasang, parit aliran air sudah tergali dengan rapih, kini kondisi sudah lebih baik dari sebelumnya.

            Tidak lama kami mempersiapkan segala sesuatunya, ada sebuh kejadian dimana si bagas datang menghampiri rombongan pendaki di sebelah kami, kami fikir pos ini masih aman dari serangan bagas ternyata bagas selalu mencari makanan di keramaian. Tentu saja kami bergegas menggantungkan sampah di pohon, untung saja kami sudah tahu perihal ini logistic makanan yang berbau amis tidak kami bawa, seluruh logistic kami masukkan kedalam carrier agar tidak tercium dan mengundangnya, cooking set sehabis dipakai kami bersihkan dan kami memastikan bahwa tidak ada hal-hal di sekeliling tenda kami yang mengundang bagas datang.
            Malam itu hujan turun disertai angin badai yang lumayan kencang, tidur saya pun sudah tidak bisa lelap lagi, kerap kali saya bangun untuk memastikan tenda dan alih-alih ada serangan dari bagas, tapi biasanya bagas tidak akan keluar kalau sedang hujan seperti ini. Dan pada jam 3 pagi hal yang kami takutkan terjadi juga, terdengar mengejutkan dari pendaki sebelah yang berteriak “babi, babi, babi, bangun bangun”.. pasti bagas sedang lapar, saya terkejut dan sigap membangunkan hadid dan ka noer, saya pun meminta tolong kepada hadid untuk menjaga diluar tenda alih alih ada serangan dari bagas karena saya sendiri pun saat ini merasa menggigil akibat tidak pakai sarung tangan, bersyukurnya tenda kami tidak menjadi korban serangan bagas mugkin karena persiapan matang menghadapi bagas.

f. Summit Attack

            Selesai melewati tragedi subuh tadi, kami sepakat untuk packing semua barang agar tidak diganggu oleh bagas, usai packing selesai. Di pagi hari diiringi kabut, kami berjalan sedikit keatas menuju titik paling atas gunung cikuray ini, tidak sampai 10 menit kami untuk sampai disana, karena pos 8 jaraknya memang berada di bibir puncak.

~~ CHINEMATIC PUNCAK ~~


g. Puncak

            Ya benar sekali. Kabut kian tebal menutupi kota Garut. Sudahlah jangan berharap lebih di cuaca yang sedang ekstrim ini, tidak masalah lantas kami sudah memprediksikan hal ini. Bisa sampai di atas kota garut ini dengan cuaca yang tidak hujan saja sudah sangat bersyukur, memang ya Allah Swt selalu punya cara untuk mengajarkan hambanya arti bersyukur.

h. Turun / Makna Video

            Ada sebuah kejadian yang menerpa salah satu rombongan pendaki di sebelah tenda kami, selain tendanya yang robek selebar tas carrier beberapa barang miliknya seperti carrier dan isi-isinya juga kini telah hilang entah kemana, dibawa siapa. Konon mereka meninggalkan barang mereka tanpa ada yang menjaga satupun ketika mereka beranjak ke puncak. Mengenai hal ini saya teringat oleh pesan penjaga basecamp bahwa ada orang stres yang masih berkeliaran di gunung cikuray ini dan biasanya dia berasala dari jalur kiara janggot, dia mencari logistic untuk dibawa pulang, tapi anehnya ini tidak hanya logistic yang dibawa tapi sampai carrier dan  perlengkapan lainnya juga, sungguh naas sekali pendaki ini, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

            Dari sini kami belajar bahwa apa yang kami persiapkan ternyata memang sangat berguna sekali, kita semua harus selalu waspada dan hati-hati tentunya mengenai apapun yang kalian bawa saat kalian pergi. Ternyata kami baru menyadari perasaan khawatir itu melekat pada kami bertiga, tidak hanya mereka yang mengkhawatirkan kami dari rumah tetapi kita bertiga di gunung pun ikut meresa tak tega merasa dikhawatirkan karena kepergian ini, dasar manusia makhluk lemah yang apa-apa selalu membawa hati yang tak bisa ditinggal, selalu ada hubungan batin dengan orang-orang tersayang.

            Kekhawatiran rekan-rekan kepada kami, entah khawatir akan cuaca yang sedang ekstrim, khawatir akan kondisi fisik dan kesehatan kami, khawatir akan kondisi gunung cikuray itu sendiri, khawatir akan perlengkapan kami yang kerap kali dibawa oleh sosok yang tak bertanggung jawab, khawatir oleh serangan bagas. Terimakasih banyak atas doa kalian kami bisa kembali pulang kerumah dengan selamat dan maaf sudah merepotkan, maaf sudah membuat rekan-rekan dan orang tua kami khawatir, maaf sekali lagi.    


CLOSING

            Oke, cukup sekian perjalanan saya di awal tahun 2020 ini, terimakasih banyak telah menonton video saya, jika kalian ingin memberikan kritik maupun saran bahkan pertanyaan-pertanyaan tentang perjalanan saya silahkan ketik di kolom komentar di bawah, dan semoga negeri kita Indonesia cepat sembuh dan selalu baik-baik saja, dan rekan-rekan begitupun saya semoga kita selalu sehat dan baik baik saja.

            Sekali lagi terimakasih, nantikan saya di video selanjutnya, saya pamit undur diri. Wabillahi taufik wal hidayah, Wassalamu’alaikum..wr..wb. Merdeka !

            Salam pengetahuan, salam petualangan, dan saya Naufal Nur A’lam.

~~ END ~~


DESCRIPTION BOX CATATAN KAKI 3
https://youtu.be/
Catatan Kaki 3 : Kekhawatiran - Gunung Cikuray, Jawa Barat
#CatatanKaki #GunungCikuray
=====================================================================================
Assalamu'alaikum. Wr. Wb
Cuaca yang ekstrim di awal tahun 2020 ini membuat beberapa daerah di negeri ini berduka, khususnya di jabodetabek. Niat perjalanan yang sudah bulat kini membuat kami tetap berjalan untuk melihat lebih dekat negeri ini yang sedang berduka, kekhawatiran dari para rekan dan orang tua juga mengiringi perjalanan kami, serta doa yang dipanjatkan itu selalu berada dalam setiap hembusan nafas kami.
Music Backsound :
-
-
-
-
Thanks for your footage :
- Nur Hadiid Surachman :
- Noer Annisa Firdaus :
“Ayo budayakan menonton video sampai detik terakhir  jangan di skip2, karena selalu ada yang pelajaran di setiap detiknya J…”
=====================================================================================
Dan mari berkenalan sekaligus bersilaturahmi lebih lanjut bersama saya dengan mengunjungi saya di :
Send message to my mail : naufal121m@gmail.com
#SalamPengetahuan
#SalamPetualangan
#NaufalNurA'lam

Komentar