Catatan Kaki 3 : Kekhawatiran
#CatatanKaki3
JUDUL = Catatan Kaki 3 : Kekhawatiran
LOKASI = Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat
LOKASI = Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat
OPENING
a. Narasi Intro (Multi
Footage)
Berani pergi melangkahkan kaki di
cuaca yang ekstrim, merupakan sebuah keputusan yang tidak bisa dibuat main-main,
sehingga lahirlah 2 asal perasaan, yang tidak bisa ditahan-tahan kehendaknya,
baik rasa mengkhawatirkan maupun yang dikhawatirkan…
b.
Salam Pembuka
Assalamualaikum..wr..wb Merdeka, Selamat pagi,
siang, sore, dan malam, dimanapun rekan-rekan semuanya berada. Saya harap
kalian semua baik baik saja ya, begitupun saya..Aamiin. Okey, Jumpa lagi dengan
saya, Naufal Nur A’lam.
Perkiraan cuaca yang tidak bisa ditebak,
membuat kita sebagai hamba hanya bisa pasrah dan bersyukur, atas kehendaknya. Musim
penghujan disertai badai, menjadi sebuah point utama, dari rasa khawatir para
rekan sahabat, dan juga orang tua tentunya. Perihal terimakasih, akan Do’a dari
orang-orang tersayanglah, yang membuat kami berani melihat lebih dekat negeri
ini yang sedang bersedih dan berduka..
Ini adalah perjalanan saya di awal
tahun 2020 ke daerah Garut Jawa Barat. Tepatnya di Gunung Cikuray, semua itu
akan saya jelaskan dan akan saya ceritakan disini, di Catatan Kaki Naufal yang ketiga
and let’s go to video…
~~ FOOTAGE JUDUL ~~
( 2 FOOTAGE SPECIAL)
ISI VIDEO
a. Prepare dan OTW
Garut
Beberapa daerah di jabodetabek
sedang mengalami fase dimana bencana alam sedang gencar-gencarnya terjadinya,
tentunya di daerah rumah saya Bekasi. Rencana pendakian yang saya susun
sedemikian rupa ini tentu saja berubah yang awalnya saya berniat mendaki ke
Gunung Salak kemudian berdasarkan informasi Gunung Salak ditutup karena
beberapa factor, pendakian kali ini saya alihkan ke Gunung Cikuray di Garut,
awalnya saya memilih Cikuray ini karena cuaca di Garut ini tidak se-ekstrim
cuaca di jabodetabek. Faktor cuaca di awal tahun 2020 ini berefek pada tim
pendakian saya juga. Dari awalnya 12 orang kini tersisa 3 orang mengenai
masalah perizinan, ah yasudah tidak apa-apa, sepertinya ini yang terbaik untuk
mereka dan semoga saya dan rekan-rekan yang lain dapat berkelana bersama di
lain waktu.
Tepat dibawah rintikan gerimis, kami
yang sebelumnya sudah menentukan rumah ka noer di bekasi sebagai titik kumpul untuk
persiapan dan start perjalanan kami menuju Garut Pada pendakian kali ini saya
ditemani oleh 2 rekan saya yaitu Hadid dan Ka Noer, ya benar sekali mereka
adalah rekan saya juga di Mazpala yang sudah beberapa kali mendaki bersama
saya. Kami mempersiapkan segala macam perlengkapan yang dibutuhkan di atas
gunung. Setelah sholat ashar dan semua perlengkapan selesai di packing dalam
carrier, kami berjalan sedikit dari gang rumah ka noer, menuju jalan raya. Setelah
memahami situasi rasanya tak mungkin kami menuju terminal bekasi, akhirnya
setelah berdiskusi kami pindah haluan untuk berangkat ke Garut dari Terminal
Kampung Rambutan Jakarta saja, kini Taksi Online-lah yang akhirnya kami pilih
untuk mengantar kami menuju terminal kampung rambutan. Tak lama kami sampai di
terminal kampung rambutan, adzan maghrib berkumandang, kami menggugurkan
kewajiban. Berdasarkan informasi yang kami ketahui sebelumnya bis terkahir
menuju garut yaitu pada pukul setengah tujuh malam, dengan harga 52.000 rupiah,
dan kami membayar 50.000 setelah tawar menawar.
Bis mengangkatkan
kaki dari kandangnya, kami dibawa pergi dari kota Jakarta, bus yang kami
fikir sudah membawa kami jauh dari Jakarta ternyata dugaan kami salah,
kondektur bus terus saja mengumandangkan teriakan khas nya untuk mencari-cari
penumpang, lagi lagi kami diputar-putar dari pasar rebo ke kampung rambutan
begitu terus sampai 2 kali putaran, ah menyebalkan. Setelah dua kali putaran
beberapa penumpang mulai kesal, mungkin karena terlalu di permainkan, akhirnya
setelah drama tersebut kami di oper ke bis lain yang bersedia mengantar kami
menuju Garut, akhirnya drama ini selesai juga. Bis mengantarkan kami ke kota
Garut, cuaca dengan suhu rendah kini membuat kami nyaman sekali dalam
perjalanan, ketika saya bangun dari tidur nyaman ini tiba-tiba kondektor
berteriak “ciluenyi-cileunyi”, hah ! cepat sekali ternyata saya benar-benar
terlelap akan perjalanan malam ini. Bis sudah sampai di Bandung, sebentar lagi
bis akan sampai di Garut.
Tepat
pada pukul tiga pagi kami tiba di terminal guntur kota Garut, baru saja
kami bertiga turun dari bis dan berencana untuk beristirahat sejenak. Baru satu
langkah tanggal bis, kami langsung saja di serang oleh para tukang ojek untuk meminta
kami menggunakan jasanya untuk mengantarkan kami menuju basecamp pemancar,
padahal sebelumnya saya sudah menghubungi pihak basecamp untuk menjemput kami
di terminal guntur ini, tapi tukang ojek ini tetap saja memaksa kami untuk
menggunakan motornya menuju basecamp, harga semakin lama memang semakin turun
tapi saya tetap tidak tergoda oleh bujuk rayuannya, karena saya benar2 faham
akan resikonya jika mengikuti ajakan tukang ojek tersebut, dan jika
dibandingkan juga harga tukang ojek dan harga pick up resmi cikuray yang
menjemput kami jauh lebih bersahabat harga pick up resmi dari cikuray itu.
Ketika beberapa kali tukang ojek itu membujuk kami, akhirnya dia pun merasa
lelah mungkin, ketika para tukang ojek lengah kami dengan sigap langsung meninggalkan
terminal.
b. BC Pemancar dan
Simaksi Pos 1
Dekat dengan pasar Ciawitali Garut,
kami melaksanakan sholat subuh di mushola dekat kawasan pasar, setelah itu kami
berbelanja sayur-sayuran untuk kebutuhan logistik dengan budget tersisa yang sangat
minim, kami harus pintar-pintar memanfaatkan uang yang sedikit untuk logistic
yang cukup. Lepas dari berbelanja,
akhirnya mobil pick up carteran yang kami hubungi sebelumnya datang menjemput, dengan
membayar sewa per-orang 40.000 rupiah untuk sekali jalan setelah tawar-menawar,
yang harga normalnya adalah 45.000 rupiah per-orang sekali jalan, jadi kalau PP
yaitu 80.000 per-orang.
Fajar di kota garut menemani kami
dalam perjalanan, awalnya saya berharap akan ada sinar matahari di garut pagi
ini, hmm ternyata tidak. Pagi ini diselimuti awan
megamendung kelam, indah nya pemandangan cikuray juga kerap tertutupi oleh
kabut hitam di punggungannya, seakan-akan tidak ada seseorang yang
datang di pagi itu. Ah, sudah-sudah tidak perlu berfikir se-negatif itu.
Kini kami melewati pos kebun teh,
kami diarahkan untuk membayar simaksi yang pertama di pos ini, seharga 10.000
rupiah per-orang. Lanjut mobil ini memutarkan ban rodanya, kami disuguhi
pemandangan kebun teh, dan beberapa petani yang berkerja di perkebunan ini ikut
menumpang bersama di pick up, beberapa kali gas di injak keadaan makin menjadi,
jalan yang dulunya aspal kian dimakan oleh bebatuan besar membuat pinggang
belakang kami sakit-sakit, sungguh penderitaan sebelum pendakian.
Basecamp pemancar di gunung cikuray ini adalah
basecamp paling resmi dibandingkan yang lain, dinamakan pemancar karena di
titik basecamp ini terdapat tower antenna penyiaran stasiun pertelevisian di
Republik Indonesia karena titik lokasinya juga berada diatas ketinggian seperti
stasiun televisi RCTI; MNCTV; Global TV; Indosiar; SCTV; dan yang paling tertua
yaitu TVRI. Dan pemilik ulung dari perkebunan disini adalah Perusahan Televisi
ini yang mengelola, yang menyediakan ladang pekerjaan untuk para warga menjadi
petani untuk menggarap perkebunan ini yang biasa panen setiap satu minggu
sekali, serta jalan disini juga dibuat oleh perusahaan televise ini untuk akses
jalan dari desa ke area perkebunan, wow.. perekonomian yang luar biasa..!!
Setelah berjuang melewati bebatuan besar, kami tiba
di basecamp pemancar ya tepat sekali kami berada di depan kantor pemancar
stasiun televisi ini. Lepas pickup meninggalkan kami, kami membuka kompor dan
cooking set lalu menyeduh mi untuk sarapan kemudian peregangan lalu berdo’a
untuk keselamatan, dan dari titik pemancar inilah pendakian kami dimulai.
Awal melangkahkan kami, kami sudah dibingungkan oleh
jalan cabang ini, kami memilih jalan ke kiri, Karena ada tanda silang yang kami
fikir ini adalah jalan buntu, Alhamdulillah pilihan kami benar, ternyata
petemuan cabangnya ada diatas, jalan tersebut disilang bukan karena jalurnya
yang salah tapi karena trek nya yang tidak lazim mungkin khusus motor petani
disana.Setelah kabut mengiringi dan menutupi jarak pandang kami, sekita 15
menit terlewati kami tiba di pos 1 yaitu pos simaksi pendataan pendaki, keadaan
basecamp ini sangat sepi, dan hanya ada satu orang relawan pemilik warung, saya
bertanya-tanya mengenai jalur dan jumlah pendaki yang berkunjung dan beberapa
tips disini, karena pos simaksinya belum buka jadi kami hanya di data saja
identitas dan berapa lama rencana di gunung, rencana kami yaitu 3 hari 2 malam,
setelah itu kami diperbolehkan bayar setelah kami turun, simaksi kedua ini
seharga 15.000 rupiah per-orangnya. Jadi total simaksi di cikuray via pemancar
ini adalah 25.000 rupiah.
c. Menuju Pos 3
Di via pemancar ada dua jenis tanjakan
yang sangat luar biasa, yaitu tanjakan baeud yang berada diantara basecamp
pemancar menuju pos 1 yang kedua adalah tanjakan cihuy. Nah, 2 tanjakan inilah yang membuah kami berasumsi bahwa
cikuray tidak pernah basa-basi. Benar saja kami langsung di suguhkan
oleh tanjakan licin bekas hujan yang membuat kami harus ekstra berhati-hati, ternyata
inilah yang disebut tanjakan cihuy cikuray, benar-benar cihuy. Sebelumnya kami
berencana untuk mendirikan tenda di pos 6 atau puncak bayangan, dan untuk
mencapai kesana kami fikir kami bisa sampai disana jam 12 siang atau jam 3
sore, kendati kami baru berada di awal pintu hutan.
Perlahan tapi pasti kami melewati
beberapa tanjakan yang licin, kami mulai merasa lelah dan khususnya pegal-pegal
di pundak saya. Akar-akar pohon yang besar dan beberapa kali tangga seakan-akan
memberikan ucapan selamat datang kepada kami bertiga, sungguh ucapan selamat
datang yang tidak seperti biasanya di kota-kota. Berdasarkan informasi yang
kami terima jarak estimasi waktu dari pos 1 ke pos 2 yaitu +/- 1 Jam, disitu
kami berfikir ah tenang saja cobaan ini tidak akan lama. Makin lama berjalan,
makin menjadi saja kami berkeringat, kaki-kaki kami
mulai memaksa untuk berhenti, pundak-pundak kami jika dapat berbicara mungkin
saja tidak sanggup untuk menggendong ransel besar ini. Entah berapa kali
di trek 1 ke 2 ini, tidak terhitung berapa kali saya menyandarkan kepala saya
ke batang pohon, tanda bahwa betapa mengejutkannya gunung cikuray ini kami
seperti merasa dibohongi oleh informasi apapun yang mengatakan bahwa jaraknya
hanya satu jam ataukah memang dari awal fisik kami lah yang sudah tidak
sanggup, entahlah.. Akhirnya setelah beberapa kali berasumsi dengan diri
sendiri, kami tiba di pos 2. Dan memang ternyata jarak yang paling sulit dan
panjang itu ada diantara pos 1 ke 2, sungguh melelahkan..
Kami baru ingat jikalau kami bawa
madu untuk menambah stamina, sebenarnya saba lebih menyarankan membawa gula
merah ya, karena lebih murah. Di pos kami beristirahat untuk mengembalikan daya
tubuh, selanjutkan kami mengangkatkan kaki lagi menuju pos 3. Entahlah
rasa-rasanya kami tidak mungkin sampai di pos 6 pada jam 3 sore nanti,
sementara sekarang saja sudah menunjukan waktu sholat dzuhur. Semakin keatas
semakin menanjak dan kini kabut kerap menutupi jarak pandang kami, entah kabut
ini turun dari atas puncak atau naik dari bawah yang jelas kini suhunya semakin
rendah, dan jarak pandang kami terbatas tidak hanya dingin ditambah perut kami
yang minta diisi, sampai lupa kalau kami belum makan siang, pantas saja aja ada
yang kurang. Selama kami berjalan kami merasa
kejanggalan daritadi kami tidak menemukan satupun rombongan pendaki di gunung
ini padahal berdasarkan informasi pemilik warung tadi ada beberapa
rombongan yang mendaki gunung ini, tapi nyatanya tidak satupun kita temui.
Dipertengahan trek kami bertemu dengan beberapa rombongan pendaki, berdasarkan
informasi mereka hanya ada 1 atau 2 rombongan pendaki saja di hari ini, dan
kami juga diinformasikan untuk tidak mendirikan tenda di pos 6 karena disana ada
si bagas atau (babi ganas) yang kerap menyerang pendaki di titik tersebut dan
juga tidak disarankan untuk mendirikan tenda di pos 7 karena hal mistisnya,
tapi kami selalu berusaha untuk berfikif positif mengenai hal tersebut. Pukul
setengah dua siang kami baru sampai di pos 3. Kami menemukan tenda yang
bentuknya sudah tidak lagi utuh, lebih mirip flysheet tepatnya mungkin akibat
ulah si bagas, dibawa tenda yang berbentuk flysheet itu kami berteduh untuk
menyatap nasi goreng buatan hadid dan mie goreng buatan ka noer, sungguh nikmat
sekali. Kami menikmatinya dibawa rintikan hujan dan kabut yang tebal.
d.
Menuju Camp Darurat
Mengenai info yang kami dapat dari
pendaki lain akan si bagas, kami ubah niat kami yang tadinya mendirikan tenda
di pos 6 sekarang kami berencana untuk mendirikan tenda di pos 8 saja, tempat
yang paling aman dari serangan si bagas, hujan sore ini tak henti-henti dan kami
rasa kami memiliki tenaga yang cukup untuk mencapai pos 8.
Dalam
perjalanan ini saya teringat oleh pesan seorang rekan yang berpesan; “jangan
lupa sholat bang diatas, awas jangan sampai hipo fal, semoga kekhawatiran
orang-orang atas kalian hanya sekedar angin lewat” begitulah isi pesan dari
rekan dan sahabat saya. Terimakasih banyak atas pesan dan doanya, perjalanan
menuju pos 8 ini seakan-akan memberikan kami terasa sangat memukul, ditambah trek yang curam dari pos 6 ke
7 dengan kondisi hujan dan kamipun berada dalam trek malam yang sebenarnya
tidak direkomendasikan, tapi apa daya kami berupaya menghindari bagas. Jangankan mendokumentasikan perjalanan malam ini, membawa
tubuh sendiri saja kami sudah tidak sanggup, mungkin kami bertiga merasakan
bahwa ini adalah titik terlemah kami. Di antara pos 6 dan 7, kami
membuat camp darurat, kami sudah tidak sanggup melanjutkan pendakian hari ini,
dan beberapa dari kami bermimpi didatangi seorang rekan dalam mimpinya entah
itu pertanda apa, kami tidak tahu apakah besok harus melanjutkan pendakian atau
mencukupkannya sampai disini.
Sinar matahari yang kami harapkan
kehadirannya kini datang juga, lepas hujan kini mentari menghangatkan kami.
Tentu saja kami tidak menyia-nyiakan moment ini, ternyata hal kecil yang sering
kali dilupakan kini diatas gunung sinar matahari sangatlah berarti kehadirannya,
dasar manusia seperti saya lupa cara bersyukur. Kami menjemur semua pakaian dan
perlengkapan yang basah dan membuat sarapan pagi.
e. Menuju Pos 8
Kami mulai
menenagkan diri dan kembali berfikir waras usai kejadian semalam, selesai
santap sarapan yang dibuat hadid dan ka noer akhirnya kami memutuskan untuk
melanjutkan pendakian, kini tidak terlalu berat seperti hari jumat kemarin
target kami hanya sampai pos 8 untuk mendirikan tenda, setelah packing selesai
kami melanjutkan perjalanan dan benar saja tidak sampai 10 menit kami tiba di
pos 7 dan setelah 15 menit berlalu dari pos 7 kami tiba diesbuah lahan datar
yang luas disana banyak sekali jejak pendaki yang mendirikan tenda disini dan
benar ternyata inilah yang disebut pos 8, pos yang baru dibuat disini memang
belum ada papan penunjuknya tapi berdasarkan info ini adalah pos 8, pos ini
begitu sepi tak ada satupun rombongan pendaki yang ada disini, ternyata hanya
kami bertiga lah satu-satunya rombongan di gunung cikuray di hari jumat
kemarin. Pos 8 adalah tempat yang paling aman untuk mendirikan tenda, kami pun
segera mendirikan tenda disini, sekarang kondisinya sudah lebih tenang tidak
se-tegang hari jumat kemarin, syukurlah.
Flysheet telah dibentangkan
dengan lebar, frame demi frame sudah tersusun, doble layer tenda sudah berdiri,
api berwarna biru dari kompor membuat suhu air semakin panas tanda ingin
menghangatkan tubuh, baju pakaian basah telah terjemur, baju hangat menggantikannya,
penampungan air hujan telah terpasang, parit aliran air sudah tergali dengan
rapih, kini kondisi sudah lebih baik dari sebelumnya.
Tidak
lama kami mempersiapkan segala sesuatunya, ada sebuh kejadian dimana si bagas
datang menghampiri rombongan pendaki di sebelah kami, kami fikir pos ini masih
aman dari serangan bagas ternyata bagas selalu mencari makanan di keramaian.
Tentu saja kami bergegas menggantungkan sampah di pohon, untung saja kami sudah
tahu perihal ini logistic makanan yang berbau amis tidak kami bawa, seluruh
logistic kami masukkan kedalam carrier agar tidak tercium dan mengundangnya, cooking
set sehabis dipakai kami bersihkan dan kami memastikan bahwa tidak ada hal-hal
di sekeliling tenda kami yang mengundang bagas datang.
Malam
itu hujan turun disertai angin badai yang lumayan kencang, tidur saya pun sudah
tidak bisa lelap lagi, kerap
kali saya bangun untuk memastikan tenda dan alih-alih ada serangan dari bagas, tapi biasanya
bagas tidak akan keluar kalau sedang hujan seperti ini. Dan pada jam 3 pagi hal yang kami takutkan terjadi juga,
terdengar mengejutkan dari pendaki sebelah yang berteriak “babi, babi, babi,
bangun bangun”.. pasti bagas sedang lapar, saya terkejut dan sigap membangunkan
hadid dan ka noer, saya pun meminta tolong kepada hadid untuk menjaga diluar
tenda alih alih ada serangan dari bagas karena saya sendiri pun saat ini merasa
menggigil akibat tidak pakai sarung tangan, bersyukurnya tenda kami tidak
menjadi korban serangan bagas mugkin karena persiapan matang menghadapi bagas.
f.
Summit Attack
Selesai melewati tragedi subuh tadi,
kami sepakat untuk packing semua barang agar tidak diganggu oleh bagas, usai
packing selesai. Di pagi hari diiringi kabut, kami berjalan sedikit keatas
menuju titik paling atas gunung cikuray ini, tidak sampai 10 menit kami untuk
sampai disana, karena pos 8 jaraknya memang berada di bibir puncak.
~~ CHINEMATIC PUNCAK ~~
g. Puncak
Ya benar sekali. Kabut kian tebal
menutupi kota Garut. Sudahlah jangan berharap lebih di cuaca yang sedang
ekstrim ini, tidak masalah lantas kami sudah memprediksikan hal ini. Bisa
sampai di atas kota garut ini dengan cuaca yang tidak hujan saja sudah sangat
bersyukur, memang ya Allah Swt selalu punya cara untuk mengajarkan hambanya arti
bersyukur.
h. Turun / Makna Video
Ada sebuah kejadian yang menerpa salah satu
rombongan pendaki di sebelah tenda kami, selain tendanya yang robek selebar tas
carrier beberapa barang miliknya seperti carrier dan isi-isinya juga kini telah
hilang entah kemana, dibawa siapa. Konon mereka meninggalkan barang mereka
tanpa ada yang menjaga satupun ketika mereka beranjak ke puncak. Mengenai hal
ini saya teringat oleh pesan penjaga basecamp bahwa ada orang stres yang masih
berkeliaran di gunung cikuray ini dan biasanya dia berasala dari jalur kiara
janggot, dia mencari logistic untuk dibawa pulang, tapi anehnya ini tidak hanya
logistic yang dibawa tapi sampai carrier dan
perlengkapan lainnya juga, sungguh naas sekali pendaki ini, sudah jatuh
tertimpa tangga pula.
Dari sini kami belajar bahwa apa
yang kami persiapkan ternyata memang sangat berguna sekali, kita semua harus
selalu waspada dan hati-hati tentunya mengenai apapun yang kalian bawa saat
kalian pergi. Ternyata kami baru menyadari perasaan khawatir itu melekat pada
kami bertiga, tidak hanya mereka yang mengkhawatirkan kami dari rumah tetapi
kita bertiga di gunung pun ikut meresa tak tega merasa dikhawatirkan karena
kepergian ini, dasar manusia makhluk lemah yang apa-apa selalu membawa hati
yang tak bisa ditinggal, selalu ada hubungan batin dengan orang-orang
tersayang.
Kekhawatiran rekan-rekan kepada
kami, entah khawatir akan cuaca yang sedang ekstrim, khawatir akan kondisi
fisik dan kesehatan kami, khawatir akan kondisi gunung cikuray itu sendiri,
khawatir akan perlengkapan kami yang kerap kali dibawa oleh sosok yang tak
bertanggung jawab, khawatir oleh serangan bagas. Terimakasih banyak atas doa
kalian kami bisa kembali pulang kerumah dengan selamat dan maaf sudah
merepotkan, maaf sudah membuat rekan-rekan dan orang tua kami khawatir, maaf
sekali lagi.
CLOSING
Oke, cukup sekian perjalanan saya di awal tahun 2020
ini, terimakasih banyak telah menonton video saya, jika kalian ingin memberikan
kritik maupun saran bahkan pertanyaan-pertanyaan tentang perjalanan saya
silahkan ketik di kolom komentar di bawah, dan semoga negeri kita Indonesia
cepat sembuh dan selalu baik-baik saja, dan rekan-rekan begitupun saya semoga
kita selalu sehat dan baik baik saja.
Sekali lagi terimakasih, nantikan
saya di video selanjutnya, saya pamit undur diri. Wabillahi taufik wal hidayah,
Wassalamu’alaikum..wr..wb. Merdeka !
Salam pengetahuan, salam petualangan,
dan saya Naufal Nur A’lam.
~~ END ~~
DESCRIPTION
BOX CATATAN KAKI 3
https://youtu.be/
Catatan
Kaki 3 : Kekhawatiran - Gunung Cikuray, Jawa Barat
#CatatanKaki
#GunungCikuray
=====================================================================================
Assalamu'alaikum.
Wr. Wb
Cuaca yang ekstrim di awal tahun 2020 ini membuat beberapa daerah di negeri ini berduka, khususnya di jabodetabek. Niat perjalanan yang sudah bulat kini membuat kami tetap berjalan untuk melihat lebih dekat negeri ini yang sedang berduka, kekhawatiran dari para rekan dan orang tua juga mengiringi perjalanan kami, serta doa yang dipanjatkan itu selalu berada dalam setiap hembusan nafas kami.
Cuaca yang ekstrim di awal tahun 2020 ini membuat beberapa daerah di negeri ini berduka, khususnya di jabodetabek. Niat perjalanan yang sudah bulat kini membuat kami tetap berjalan untuk melihat lebih dekat negeri ini yang sedang berduka, kekhawatiran dari para rekan dan orang tua juga mengiringi perjalanan kami, serta doa yang dipanjatkan itu selalu berada dalam setiap hembusan nafas kami.
Music
Backsound :
-
-
-
-
-
-
-
-
Thanks
for your footage :
- Nur Hadiid Surachman :
- Noer Annisa Firdaus :
- Nur Hadiid Surachman :
- Noer Annisa Firdaus :
“Ayo budayakan
menonton video sampai detik terakhir
jangan di skip2, karena selalu ada yang pelajaran di setiap detiknya J…”
=====================================================================================
Dan mari
berkenalan sekaligus bersilaturahmi lebih lanjut bersama saya dengan
mengunjungi saya di :
-
Facebook : https://www.facebook.com/naufal121m
- Instagram : https://www.instagram.com/naufal121m/
- Twitter : https://twitter.com/naufal121m
- Blogger : http://naufal121m.blogspot.com/
- Instagram : https://www.instagram.com/naufal121m/
- Twitter : https://twitter.com/naufal121m
- Blogger : http://naufal121m.blogspot.com/
#SalamPengetahuan
#SalamPetualangan
#NaufalNurA'lam
#SalamPetualangan
#NaufalNurA'lam
Komentar
Posting Komentar